Review 2 Audiobook Karya Yasunari Kawabata, Penerima Nobel Sastra 1968

kawabata cover

Pecinta sastra di Indonesia tentu sudah tak asing lagi dengan nama Yasunari Kawabata, seorang sastrawan asal Jepang yang karya-karyanya sudah banyak diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, dimana dalam rentang waktu tahun 1972-2003, sudah terdapat sembilan judul buku karyanya yang diterjemahkan.

Selain itu, penerima Nobel Sastra 1968 ini memiliki porsi karya terjemahan terbanyak dibandingkan tiga sastrawan Jepang lainnya yang karya-karyanya juga sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

Dari kesembilan judul buku terjemahan karya Kawabata, Listeno telah berhasil merilis dua judul ke dalam bentuk audiobook yang sudah bisa didengarkan melalui aplikasi Listeno.

Dua buku tersebut adalah Daun-Daun Bambu, dan Ibu Kota Lama.

Daun-Daun Bambu merupakan kompilasi cerpen karya Kawabata yang diterbitkan oleh EA Book. Audiobook  yang dinarasikan oleh Pritalya Utomo ini menghadirkan tujuh cerita pendek dan kutipan pidato saat Kawabata menerima Nobel Sastra.

Meski kompilasi cerpen, namun Burung-burung dan Satwa Liar bisa dikategorikan sebagai novelet karena memiliki cerita yang lebih panjang. Selain itu ada juga cerita yang sangat pendek berjudul Daun-daun Bambu. Namun hal tersebut tidak akan mengganggu nikmatnya buku ini untuk didengarkan.

Alur cerita dalam buku ini penuh dengan kesederhanaan dan keluguan yang tersaji dalam prosa bertipe naturalis namun penuh dengan renungan hidup.

“… karena upacara pemakaman sering memberi inspirasi kepadaku untuk memperhitungkan hidup dan matinya orang-orang terdekatku.”

Sedangkan Ibu Kota Lama yang diterbitkan oleh Indie Book Corner dan dinarasikan oleh Jeci Gracietta merupakan salah satu dari tiga novel Kawabata yang dikutip khusus oleh Komite Nobel saat ia menerima penghargaan Nobel Sastra.

Berlatar kota Kyoto di Jepang, novel fiksi ini berkisah tentang seorang anak perempuan bernama Chieko yang diadopsi oleh Takichiro, seorang desainer kimono.

Chieko pun mengalami pergulatan batin. Ia menjadi bingung dan bimbang ketika menemukan kebenaran tentang masa lalunya.

Apa yang dirasakan oleh Chieko, baik itu kebingungan, kepedihan dan kerinduan, semuanya diramu oleh Kawabata dengan puitis namun tetap tersaji dengan ringan.

“Menculik seorang bayi adalah perbuatan dosa, lebih parah ketimbang mencuri uang ataupun yang lainnya. Bahkan mungkin orangtua kandungmu sudah gila karena kedukaan. Ketika berpikir akan hal ini, bahkan ibu jadi ingin mengembalikanmu. Tapi, tentu itu sudah sangat terlambat. Jika kau ingin mencari asal-usulmu, orangtuamu yang sebenarnya, ibu tak bisa mencegah. Tapi, ibu mungkin akan segera mati.”

Kedua buku ini sangat menarik untuk dinikmati, apalagi jika kamu termasuk salah satu pecinta sastra. Sekarang kamu tinggal hidupin smartphone, lalu buka aplikasi Listeno untuk mendengarkan dua novel Kawabata ini. Cara lain menikmati karya sastra, ya cuma di Listeno.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *