Perpustakaan Ramah Difabel Netra di Indonesia

membaca buku braille

Kehadiran perpustakaan menjadi sebuah gudang informasi yang dinantikan oleh banyak kalangan, termasuk para difabel. Namun sayangnya, tidak semua perpustakaan memiliki layanan yang mudah diakses oleh para difabel, khususnya difabel netra.

Para difabel netra tentunya juga ingin mendapatkan informasi seluas-luasnya, sehingga hal tersebut mendorong sejumlah perpustakaan di Indonesia agar dapat memenuhi kebutuhan tersebut dengan cara menyediakan buku braille, audio, maupun JAWS (Job Access With Speech) screen reader.

Dari sejumlah perpustakaan di Indonesia,  Difabel Corner (DC) yang dimiliki oleh Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menjadi perpustakaan perguruan tinggi yang pertama kali menyediakan layanan bagi para difabel. DC yang diresmikan pada 20 Desember 2011 ini memiliki fasilitas seperti alat digital talking book, JAWS screen reader, audiobook, buku braille dan juga fasilitas buku-buku bagi tuna rungu.

Selanjutnya ada Perpustakaan Universitas Brawijaya Malang yang juga menyediakan Difabel Corner dengan fasilitas diantaranya koleksi buku braille dan audiobook untuk difabel netra, tangga tak berundak bagi tuna daksa, koleksi film yang sudah dilengkapi dengan bahasa isyarat yang disediakan bagi penyandang tuna rungu dan tuna wicara.

Perpustakaan perguruan tinggi lainnya yang juga telah menjadi perpustakaan ramah difabel adalah Perpustakaan Universitas Diponegoro Semarang dan Untiversitas Sanata Dharma Yogyakarta yang melayani mahasiswa tunarungu.

Selain perpustakaan perguruan tinggi, Kantor Arsip dan Perpustakaan Daerah Kota Yogyakarta telah membuka layanan Blind Corner sejak tahun 2010.

Kemudian pada Mei 2015, Perpustakaan Umum Kota Malang mengikuti langkah untuk membuka Braille Corner karena berdasarkan Undang-Undang No 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan bahwa perpustakaan wajib menyediakan fasilitas, tidak terkecuali untuk penyandang disabilitas.

Bentuk dukungan bagi difabel netra lainnya juga ditunjukkan oleh Sentra Advokasi Perempuan, Difabel, dan Anak (SAPDA) dengan mendirikan perpustakaan aksesibilitas yang bertujuan menyediakan fasilitas bagi para penyandang tuna netra agar mudah untuk mendapatkan informasi dari buku.

Semoga ke depannya perpustakaan ramah difabel di Indonesia semakin banyak dan mudah dijangkau oleh para penyandang disabilitas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *