Ibu, Tersenyumlah Saat Kau Berkunjung Dalam Mimpiku

Hari Ibu

Aku tenggelam dalam buku yang sedang aku baca ketika ibu masuk ke kamarku. Aku hanya melirik dengan ekor mataku tanpa mengalihkan perhatianku dari buku dan masih tetap berbaring malas di tempat tidurku. Ku lihat ibu perlahan duduk di kursi depan meja belajarku. Aku masih diam. Aku tahu bahwa ibu akan mengatakan sesuatu karena biasanya, bila ibu masuk ke kamarku pasti ada yang ingin disampaikan. Lama keheningan itu berlangsung.

“Nduk…” Begitu ibu selalu memanggilku.

“Hmm…” Aku hanya mendehem sebagai jawaban atas panggilan ibu tanpa menoleh sedikitpun.

“Tadi malem pulang jam berapa?” Aku hanya melirik ketika mendengar pertanyaan itu. Timbul rasa tidak suka.
Merasa ibu ikut campur urusanku. Lama aku tidak mejawab, ibu pasti melihat raut tidak suka pada wajahku.

“Ibu tu cuma bertanya. Soalnya ibu tidak mendengar kamu pulang, eh ternyata sudah di kamar” Aku tau ibu berusaha menurunkan emosinya. Berusaha untuk tidak membuatku marah.

“Mmmmm jam berapa ya…pagi kayaknya” Akhirnya aku menjawab acuh. Aku mendengar ibu mendesah. “Kenapa bu?” Tanyaku kemudian. Ibu hanya menggelengkan kepalanya tanpa senyum di wajahnya.

“Sama siapa pulangnya?” Ibu melanjutkan pertanyaannya dan membuatku semakin tidak suka ditanya-tanya seperti ini.

“Kenapa sih bu? Yang penting ‘kan aku sudah dirumah” Aku sadar bahwa suaraku mulai terdengar nyolot.

“Ibu ‘kan cuma tanya, pengen tau aja. Apa kamu pulang sama temenmu itu, siapa itu namanya?” Sebenarnya ibu sudah tau nama temanku, tapi dari nadanya, aku juga tau bahwa ibu tidak suka. Bahkan ibu juga tau bahwa aku tidak suka bila menyinggung teman-temanku.

“Iya, Bu, sama dia. Cuma sampe jalan depan aja kok. Wong dia juga gak berani nganter sampe rumah,” jawabku panjang. Ibu kembali mendesah.

“Ibu sebenarnya tidak suka kamu bergaul sama dia,” ibu memulai pertengkaran, pikirku.

“Emang kenapa sih, Bu? Dia salah apa sampe ibu gak suka? Semua teman-temanku selalu saja ibu nggak suka. Padahal mereka biasa aja, nggak bikin masalah sama ibu juga ‘kan?” Mulailah aku memberondong ibu dengan sederet pertanyaan yang menunjukkan ketidak sukaanku.

“Kamu itu lho, ibu belum ngomong apa-apa sudah marah-marah. Apa ndak boleh kalau ibu tidak suka dengan temanmu yang itu?”

“Bukan ndak boleh, Bu. Tapi alasannya apa? Ndak suka itu kan ada alasannya. Coba ibu kasih satu alasan saja biar aku paham kenapa ibu tidak suka.”

“Ibu ndak bisa bilang apa itu. Pokoknya ya, ibu ndak suka aja.”

“Kok ibu bisa bilang gitu, wong ibu aja ndak kenal dia banget kok. Ibu tu lho senengnya menghakimi orang. Aku tu ndak suka juga kalau ibu selalu gitu. Ibu ndak pernah ramah sama teman-temanku. Mereka itu takut loh sama ibu. Gara-gara takut sama ibu, mereka juga jadi ndak mau temenan sama aku. Terus kalau aku ndak punya teman, ibu seneng?” Ku lempar buku yang tadi aku baca, bangkit dari tempat tidur dan berniat mengambil handuk mau mandi. Aku sangat kesal. Tapi sebelum aku meraih handuk, ibu sudah lebih dulu berjalan meninggalkan kamarku.

Aku berdiri di depan jendela kamarku. Diam menahan kekesalan. Betapa susahnya aku berbincang-bincang sama ibu. Mungkin ibu benar, tapi aku tetap tidak suka jika ibu memandang temanku seperti itu.

Aku mendengar pintu kamar di belakangku terbuka. Aku tidak mengalihkan pandanganku. Tatapanku masih liar memandang keluar jendela. Mengatupkan gigi dengan kuat. Menggigit bibir hingga berdarah. Aku tidak suka menangis. Hanya dengan cara ini aku bisa menahan air mata ku keluar.

“Kamu kenapa lagi sih sama ibu?” Itu suara kakak laki-laki ku yang sulung. Satu-satunya kakakku yang sering mengajakku berbincang. Sepertinya, dari beberapa kakakku, hanya dia yang bisa melunakkan kekerasan hatiku. Aku masih tidak membalikkan tubuhku. Aku mendengar suara kursi diseret dan kakakku duduk di belakangku.

“Kenapa setiap kali ibu masuk kamarmu, dia selalu keluar dengan menangis? Apa kamu tidak bisa sedikit lunak sama ibu?” Kakakku mulai berbicara. Aku semakin kuat mencengkeram pinggir jendela menahan geram dan airmata.

“Mas ‘kan tau, aku ndak suka ibu menghakimi teman-temanku. Ibu selalu begitu.”

“Iya, mas tau, tapi bisa kamu ‘kan bicara sama ibu  baik-baik. Nggak perlu ngotot. Apa kamu nggak kasihan sama ibu yang selalu nangis setiap habis ngomong sama kamu?”

“Ibu juga sih, bikin aku tersinggung. Mas juga bilang dong sama ibu, jangan suka gitu kalau sama aku.”

“Heran, kalian ini kok nggak ada yang mau ngalah.”

“Ya ibulah yang harus ngalah!” kataku sengit.

“Denger sini,” kakakku memegang bahu dan menarik daguku, memaksaku untuk menatap wajahnya.

“Bagaimanapun, dia adalah ibu kita. Kita harus menghormatinya. Kalau kamu tidak suka cara ibu berbicara, pelankan suaramu dan mintalah pada ibu secara baik-baik. Ibu bisa mengerti kok. Jangan sakiti hati ibu dengan caramu itu,” kakakku berkata lembut. Aku menunduk, tidak berani menatap matanya.

“Jangan pernah membentak orang tua, walau mungkin sangat mengesalkan. Mungkin ibu benar, cuma caranya saja yang tidak tepat. Ibu masih menganggapmu anak kecil yang bisa atur-atur. Pahamilah itu,” aku pun mulai terisak.

“Bagaimanapun cara ibu menegur kita, hargailah. Ambil bagian positifnya, tanggapi dengan dewasa. Kamu bukan anak-anak lagi loh,” kakakku masih berusaha membujukku dan semua kata-katanya membuat bendungan airmataku meluap. Aku menangis kuat di dada kakakku. Dia memelukku erat.

“Sudah…sudah. Minta maaf sama ibu sana,” dia menepuk bahuku pelan sambil menganggukkan kepala memberi perintah kepadaku. Aku masih terdiam, seolah enggan melakukannya.

Bertahun-tahun kemudian, menjelang kepergian ibu untuk selamanya, aku baru mengerti bahwa di balik semua pertanyaan ibu yang selalu memburuku, ada alasan sederhana, yaitu karena aku anak perempuan satu-satunya dan menjadi anak bungsu yang dimiliki ibu. Itulah yang membuat ibu selalu khawatir bila aku terlambat pulang ke rumah. Tapi saat itu, aku tidak pernah peduli bahwa kekhwatirannya itu merupakan bentuk kasih sayangnya kepadaku.

Selanjutnya aku sibuk bertumbuh sendiri tanpa berusaha memperbaiki hubungan emosi yang tidak mesra terhadap ibu. Bukan karena aku tidak sayang ibu, hanya mungkin, cara berkomunikasi kami saja yang tidak sama. Sampai hari terakhirnya, aku tidak memperoleh kesempatan untuk menebus semua kekeliruanku terhadap ibu.

Ibu, aku minta maaf untuk semua kejadian di masa remajaku itu yang selalu memicu pertengkaran diantara kita. Maafkan aku, anakmu yang tidak pernah bisa mengerti jalan pikiranmu. Maafkan kelalaianku, lebih sibuk menata diri menjadi dewasa tanpa melibatkanmu, sementara itu, aku lupa bahwa ibu juga beranjak tua. Apakah ibu masih marah kepadaku? Mengapa ibu tidak meninggalkan senyum untukku? Ibu, tersenyumlah sekaliii saja ketika kau berkunjung dalam mimpiku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *